STIGMA MASYARAKAT PADA PASIEN TB (TUBERCULOSIS) PARU DI PUSKESMAS WAIBHU
Kata Kunci:
Stigma, Masyarakat, TuberculosisAbstrak
Stigma sangat berpengaruh pada program pengobatan TB paru, dimana masalah utama dalam pengobatan TB paru adalah keterlambatan dalam pengobatan dan putusnya pengobatan. Penyebab dari masalah ini adalah munculnya stigma yang membuat pasien TB paru menghindar untuk berobat. Berdasarkan pengambilan data awal di Puskesmas Waibhu pada bulan Maret 2022, pada tahun 2021 dari bulan Januari – Desember terdapat 61 pasien TB paru yang menyebar diberbagai wilayah kerja Puskesmas Waibhu. 33 diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan 28 pasien berjenis kelamin perempuan. Untuk mengetahui gambaran stigma masyarakat pada pasien TB (Tuberculosis) Paru di Puskesmas Waibhu. Metode Penelitian metode deskriptif kuantitatif. pada bulan Juli 2022. Sampel penelitian sebanyak 30 orang dengan menggunakan tehnik accidental sampling. kuesioner ini diambil dari Daniels., et al (2022) dengan hasil ujivaliditas menggunakan Spearman Correlation Coefficient. Berdasarkan usia, jenis kelamin, keterpaparan informasi, persepsi dan stigma, menunjukkan bahwa sebagian besar usia dari responden berusia 36-45 tahun sebanyak 11 responden (36,7%). Berdasarkan jenis perempuan sebagian besar dariresponden laki-laki sebanyak 17 responden (56,7%). Berdasarkan apakah memiliki keluarga penderita TB responden mengatakan Tidak sebanyak 30 responden (100%). Berdasarkan apakah Mendapat informasi tentang TB responden mengatakan Tidak sebanyak 27 responden (90%). Berdasarkan Stigma sebagian besar dari responden memiliki stigma tinggi sebanyak 30 responden (100%). Berdasarkan Stigma sebagian besar dari responden memiliki stigma tinggi sebanyak 30 responden (100%).
